visit us

visit us

Selasa, 09 September 2014

Mahasiswa Ubhara Kembali "Serbu" Thailand


Para mahasiswa peserta Joint Degree beserta Rektor Ubhara (berbaju batik).
Surabaya - Setelah melalui tahapan Seleksi Akademik, Tes Toefl dan Tes Psikologi, sepuluh mahasiswa Kelas Internasional Universitas Bhayangkara Surabaya siap diberangkatkan ke Negeri Gajah Putih Thailand. Para mahasiswa tersebut, dijadwalkan akan terbang ke Thailand pada Kamis (11/9) menggunakan Maskapai Garuda Indonesia Airways. 


Sepuluh mahasiswa yang terdiri dari tiga mahasiswa Teknik Elektro, satu mahasiswa Teknik Informatika dan enam mahasiswa Ekonomi Manajemen akan melakukan Studi Program Joint Degree di Rajamangala University of Technology Tanyaburi (RMUTT) Thailand selama satu tahun terhitung mulai bulan September ini. Hal ini menjadi "pengiriman" keempat mahasiswa Ubhara Surabaya untuk studi ke RMUTT Thailand semenjak tahun 2010.

Berdasarkan surat dari Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri (BPKLN) Kementrian Pendidikan Kebudayaan (Kemendikbud) Tanggal 20 Agustus 2014, Mahasiswa Ubhara Surabaya atas nama Kurniasari, Akhmad Fathur Rizki, Achmad Zain Antok Wahyudi (Teknik Elektro), Indra Dwi Permana (Teknik Informatika) serta Frendika Eko Karyanto, Rossi Ullyl Azmi, Dimas Candra Ardianto, Ikhsanul Ariski, Febriyanti Dian Suminar, Ni Putu Lia Cahya Paramitha (Ekonomi Manajemen) mendapatkan Beasiswa Unggulan Luar Negeri dari BPKLN Kemendikbud untuk melakukan Studi Program Joint Degree di RMUTT Thailand. Selain dari BPKLN Kemendikbud, 10 mahasiswa juga mendapat subsidi beasiswa luar negeri dan tiket keberangkatan dari Yayasan Brata Bhakti Jawa-Timur (YBBDJ) sebagai yayasan yang menaungi Ubhara Surabaya.

Hingga saat ini, program Joint Degree yang dilaksanakan oleh Ubhara hanya dapat diikuti oleh para mahasiswa dari dua fakultas saja, yaitu Fakultas Teknik dan Fakultas Ekonomi. Untuk dua fakultas lainnya, yaitu FISIP dan Fakultas Hukum masih dalam proses perencanaan dengan Universitas lain di Thailand. (sa)

Senin, 08 September 2014

Mahasiswa FISIP Ubhara Meriahkan Hari Jadi RRI

Mahasiswa Fisip Ubhara beserta tiga peserta lain pada acara Green Radio n' Blue Ocean






Surabaya - Fakultas Ilmu Soisal dan Ilmu Politik Universitas Bhayangkara Surabaya mengirimkan lima mahasiswanya untuk bergabung dalam kegiatan penanaman mangrove pada hari Sabtu (6/9) di Sonto Laut Greges Kelurahan Tambaksari Oso Kecamatan Asemrowo. Acara ini diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia dalam rangka hari jadi RRI ke-69 yang diberi tema "Green Radio n' Blue Ocean".

Bersama TNI, Pramuka Unair, Masyarakat sekitar, dan Cak Ning Surabaya, para mahasiswa FISIP Ubhara tampak antusias mengikuti serangkaian acara yang diadakan oleh stasiun radio pemerintah yang memiliki slogan "Sekali Di Udara Tetap Di Udara" tersebut.

Salah satu peserta kegiatan tersebut, Rizaldi, mahasiswa Ubhara Surabaya mengungkapkan antusiasmenya dengan mengungkapkan dampak bagi kegiatan ini yang sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Menurutnya, salah satu upaya mengurangi dampak ancaman tsunami adalah dengan menanam hutan mangrove atau hutan bakau.

"Fungsi utama mangrove penting sekali untuk melindungi garis pantai dari abrasi atau pengikisan. Menurut saya, acara ini sangat bermanfaat, karena di negeri kita ini, rawan sekali terkena tsunami karena hutan bakau sudah banyak beralih fungsi menjadi tambak, kebun kelapa sawit dan alih fungsi lain," ungkapnya.

Para peserta Green Radio n' Blue Ocean saat melakukan penanaman pohon mangrove.
Kegiatan penanaman sekitar 2000 pohon mangrove dan 14 pohon cemara laut ini juga dimeriahkan dengan dialog interaktif serta pameran berupa kreatifitas hasil pengolahan mangrove, seperti sirup mangrove, dawet mangrove dan juga berbagai makanan ringan olahan mangrove dan juga batik mangrove. Bahkan hasil batik mangrove tersebut jg telah diperagakan oleh Cak Ning Surabaya.

Dengan diadakannya acara ini, diharapkan para peserta serta masyarakat umum dapat melestarikan lingkungan dan juga meningkatkan taraf kehidupan masyarakat disekitar tempat penanaman pohon mangrove. Dari pohon mangrove itu sendiri dapat mengahsilkan kerajinan dan olahan makanan yang nantinya dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat. (gtg.sa)

Jumat, 05 September 2014

Jurnalis atau Humas?


Dunia ilmu komunikasi sangat erat kaitannya dengan profesi public relations (PR) dan jurnalistik. Bagi para praktisi PR, mempelajari ilmu jurnalistik sangatlah berguna menunjang segala aktifitas kehumasan. Begitupula dengan praktisi jurnalistik, yang wajib memahami keilmuan dalam bidang hubungan masyarakat untuk segala aktifitasnya. 

Memang tak sedikit yang beranggapan bahwa dunia jurnalis dan PR berbeda, dengan menyatakan hubungan keduanya adalah sebagai partner, rekan, dan sekaligus mitra kerja terdekat. Hubungan dari keduanya yang terjalin diteoritiskan sebagai hubungan simbiosis mutualis, dimana kedua belah pihak saling menguntungkan dan saling memberikan manfaat. 

Namun, dibalik perbedaan tersebut, kedua cabang ilmu ini memiliki kesamaan dalam latar belakang keilmuannya. Dalam konteks dunia PR, para ahli komunikasi tentu sepakat bahwa jurnalistik menjadi salah satu keahlian yang harus kuasai oleh seorang PR. Kemampuan dalam bidang jurnalistik tidak dapat dipungkiri menjadi modal seseorang untuk menjadi PR yang handal. Hal itu karena beberapa skill jurnalistik yang harus dimiliki oleh wartawan pada dasarnya juga harus dimiliki oleh seorang PR. Contohnya kemampuan menulis Press Release, negosiasi, membaca isu dan momentum serta berelasi dengan pihak terkait. Segala skill tersebut akan dibahas secara tuntas oleh cabang ilmu jurnalistik.

Begitupula sebaliknya, dalam dunia jurnalistik yang segala aktivitasnya dilakukan oleh sekelompok orang yang berkaitan dengan tulis menulis, fungsi public relations tak bisa dilepaskan begitu saja. Hal ini dikarenakan profesi public relations bisa masuk ke berbagai lini aktivitas manusia. Public relations adalah ilmu terapan dan jembatan semua aspek kehidupan termasuk dalam dunia pers. Berapa konsep yang akan dialami oleh praktisi jurnalistik mampu diimplementasikan oleh cabang ilmu public relations pada publikasi, komunikasi internal, promosi bahkan periklanan, yang kesemuanya merupakan aktifitas kewartawanan.

Berbekal penjelasan diatas, baik keilmuan jurnalistik maupun public relations dapat disimpulkan menjadi suatu hal yang tak terpisahkan. Keduanya memiliki fungsi untuk memberikan penerangan kepada publik dan melakukan persuasi kepada publik untuk mengubah sikap dan tingkah laku. Oleh sebab itulah kedua bidang ini dibentuk untuk bersinergi satu sama lain, dan membutuhkan rasa percaya dari masyarakat yang mereka "layani". (sa)         

Source : http://alayyubi23.blogspot.com/2014/09/jurnalistik-atau-humas.html